MENDORONG BERPIKIR DENGAN CARA BERBEDA


Hendri sedang bingung dengan keinginan atasannya yang meminta dirinya dan tim untuk memberikan inovasi dalam pekerjaannya. Menurut Hendri, proses kerja yang ada saat ini sudah cukup baik, sehingga tidak perlu lagi adanya inovasi. Rekan-rekan Hendri yang lain juga mengalami hal yang serupa, dan merasa tugas ini menjadi beban tersendiri yang harus diterima. Atasannya menjadwalkan setiap karyawan diminta mempresentasikan ide inovasi, yang mampu mendorong meningkatkan efisiensi dan produktifitas kerja pada akhir bulan ini.

Masih banyak Hendri lain yang mengalami permasalahan serupa, yang sudah merasa nyaman dengan kondisi yang ada. Dalam era sekarang, perubahan lingkungan menjadi sangat dinamis bahkan cenderung ‘chaos’ dan hanya memberikan 2 (dua) pilihan bagi organiasi, yaitu: beradaptasi atau tertinggal. Pilihan yang diambil, pastinya adalah beradaptasi dengan perubahan agar tetap dapat bertahan dan tumbuh dikondisi tersebut. Namun, pilihan beradaptasi tentunya memiliki konsekuensi yang harus dipenuhi, salah satunya adalah melakukan cara yang berbeda untuk memberikan hasil yang berbeda pula (lebih baik tentunya). Organisasi harus mampu memberikan ‘stimulus’ kepada seluruh karyawan agar dapat berinovasi dengan cara merubah pola pikirnya. Bagaimana mungkin kita melakukan cara yang sama, akan tetapi mengharapkan hasil yang berbeda? Tantangan untuk dapat memberikan cara berpikir yang berbeda ini menuntut karyawan untuk keluar dari zona nyaman yang telah mereka nikmati sebelumnya.

Mendorong orang agar mampu berfikir kreatif dan mampu berfikir dengan cara-cara yang berbeda di dalam melihat suatu peluang ataupun saat memecahkan masalah, bukanlah hal yang mudah. Diperlukan keberanian mental dan usaha dari orang tersebut untuk melakukan sesuatu yang berbeda atau bahkan mungkin menjadi ‘anti mainstream’. Ada beberapa hal yang menyebabkan orang memiliki kemalasan mental di dalam memunculkan kreatifitas diri:

Pertama, rutinitas yang tinggi. Kegiatan apapun yang sudah menjadi rutinitas, cenderung akan menjebak individu menjadi kurang peka dengan apa yang terjadi dilingkungannya. Mereka menganggap semuanya merupakan hal yang wajar, sehingga lebih cenderung menikmati kondisi yang ada, dan menentang bila ada ide perbaikan atau perubahan. Orang-orang inilah yang akan menjadi penghambat dalam mempercepat proses perubahan.

Kedua, memiliki pikiran negatif. Banyak orang yang enggan dan takut untuk melakukan cara yang berbeda, dikarenakan takut disebut aneh, takut diolok olok, takut dikatakan penjilat, dan masih banyak ketakutan lain yang diciptakan dalam pikirannya. Ketakutan inilah yang menjadi pemikiran negatif dan menghambat dirinya untuk berfikir dengan cara yang berbeda. Mereka lebih memilih untuk menunggu orang lain yang melakukannnya terlebih dahulu, dan cenderung memposisikan dirinya hanya sebatas sebagai ‘follower’.

Ketiga, sistem birokrasi yang ada. Organisasi mengatur semua proses kerja dalam bentuk SOP (Standard Operational Procedure) ataupun IK (Instruksi kerja), di mana keduanya bertujuan untuk menjaga kestabilan dan kualitas kerja. Akan tetapi, hal inilah yang menjebak orang dalam ‘mendewakan’ SOP dan IK menjadi aturan mati yang mengharuskan semua orang mengikutinya. Sesuatu yang berbeda akan menjadi ‘salah’ bila tidak mengacu pada SOP yang ada. Pembatasan inilah membuat orang akan ‘stuck’ dengan pemikiran yang berbeda.

Keempat, terpaku pada masalah. Banyak orang pada saat mendapatkan masalah cenderung hanya fokus pada bagaimana cara menyelesaian masalah tersebut, sehingga menjebak mereka untuk berkutat pada masalah yang sama. Saat kita terlalu fokus terhadap satu masalah, maka secara tidak sadar proses berfikir kita hanya tertuju pada masalahnya, bukan pada solusi dari masalah. Sedikit orang yang melihat masalah itu dari sisi yang berbeda, sehingga dia mampu mengkarifikasi serta mengelaborasikan berbagai macam data menjadi informasi yang relevan.

Saat ini organisasi tidak ingin menunggu terlalu lama karyawannya untuk beradaptasi dengan tantangan yang dinamis, tetapi lebih memilih siapa yang mampu dan siap dalam memberikan hasil yang berbeda. Organisasi akan cenderung memilih karyawan dengan pola pikir ‘driver’ agar mampu mengeksekusi strategi yang telah ditetapkan, dengan warna yang berbeda.

 

Bayu Setiaji

VP Training Delivery

PT Lutan Edukasi

Lainnya :

comments powered by Disqus