Mengembangkan Branch Managers yang Inovatif


Dalam beberapa hari terakhir ini, kita membaca tentang perkembangan industri ritel di tanah air. Namun, pada saat yang hampir bersamaan Toys “R” Us, yang adalah jaringan toko mainan anak-anak terbesar di dunia yang berpusat di Amerika Serikat, mengalami kebangkrutan, walaupun toko-toko mereka di seluruh dunia masih terus beroperasi. Ini adalah dampak teknologi informasi kepada industri. Tekanan yang semakin besar dari jaringan toko online merambah di banyak negara, termasuk negara kita.

Di industri mana pun kita berada saat ini—baik perbankan, asuransi, otomotif, ritel, transportasi, dsb—dampaknya sudah dan akan terus kita rasakan. Beberapa orang memandang ini sebagai ancaman, karena memang perubahan besar-besaran yang terjadi sekarang ini telah “memangsa” banyak perusahaan. Namun, kita harus menyadari bahwa di balik ancaman, selalu ada peluang. Ketika kita bisa berselancar di atas gelombang perubahan ini, kita bisa melihat ke mana arah perubahan itu, dan kita bisa mempersiapkan diri untuk menghadapi, atau bahkan memanfaatkannya. Untuk dapat melakukan ini, salah satu faktor penting yang perlu dibangun oleh organisasi adalah semangat inovatif di antara para Branch Managers (BM). Sebagai orang-orang yang berada di garis depan, mereka adalah orang-orang yang paling tepat dalam melihat peluang-peluang yang ada secara jeli serta menerjemahkannya menjadi strategi baru yang inovatif.  Charles Prather dan Lisa Gundry, dalam  bukunya Blueprints for Innovations, memberikan 3 resep dalam melakukan inovasi strategi, yaitu Edukasi, Aplikasi, dan Lingkungan.

Yang pertama adalah Edukasi. Para branch managers (BM) perlu diperlengkapi dengan pengetahuan dan keterampilan dalam berinovasi dan memenangkan persaingan. Ini berarti para BM ini perlu dilatih agar mampu melakukan analisis eksternal dan internal, serta analisis industri dalam mengidentifikasi kelebihan, kekurangan, ancaman dan peluang yang ada. Tujuannya adalah agar mereka dapat merancang strategi yang tepat untuk cabang masing-masing.

Selanjutnya, edukasi perlu diikut dengan Aplikasi, sehingga para BM ini dapat menerapkan apa yang sudah mereka pelajari. Dalam praktiknya, hal ini bisa dilakukan dalam bentuk project assignment dengan dukungan manajemen senior dari organisasi sebagai mentor.

Kemudian semua ini perlu didukung oleh Lingkungan yang kondusif, khususnya lingkungan internal organisasi itu sendiri. Ini berarti perlu adanya budaya organisasi yang mendukung inovasi. Satu unsur penting dari lingkungan ini adalah kesediaan untuk menerima perbedaan pendapat. Ketika sebuah usulan langsung didukung oleh semua orang, kita perlu curiga jangan-jangan yang terjadi adalah groupthink, di mana orang-orang enggan untuk menyuarakan pendapat yang berbeda dengan suara mayoritas.

Ketika ketiga aspek ini dibangun secara bersamaan dalam organisasi, maka orang-orang di dalamnya, khususnya para Branch Managers, akan didorong untuk menjadi lebih inovatif dalam menghadapi gelombang perubahan yang terjadi. Dampaknya, organisasi dapat menjadi lebih lincah untuk mengarungi gelombang perubahan dan menghadapi persaingan yang semakin ketat.


Daniel Wirajaya

VP Lutan Consulting Services


Lainnya :

comments powered by Disqus