Menciptakan Leadership Culture


Ketika kita mendatangi sebuah perusahaan, yang pertama kita lihat tentu adalah gedungnya, lobby-nya, dan berbagai pernak-pernik dekorasinya. Ini adalah aspek fisik dari budaya organisasi. Kemudian kita mulai mengenal organisasi tersebut secara lebih dekat setelah kita mulai berinteraksi dengan satpam, resepsionis, dan mulai menjalin hubungan dengan orang-orang di dalamnya. Lewat interaksi ini, kita mengenal aspek perilaku dari budaya organisasi itu. Baik aspek fisik maupun aspek perilaku ini adalah bagian dari budaya organisasi, yang didasari oleh sekelompok norma dan keyakinan yang berlaku dan dipegang erat dalam organisasi tersebut. Norma dan keyakinan ini tidak terlihat, tetapi tercermin dari aspek fisik dan perilaku semua orang dalam organisasi tersebut.

Kalau kita melihat lebih dalam, kita bisa mengenali bahwa budaya organisasi dapat dilihat dalam dua dimensi, yaitu Dimensi Fleksibilitas dan Dimensi Hubungan. Pada dimensi fleksibilitas, dalam satu ekstrim ada beberapa organisasi yang memiliki budaya birokrasi yang sama sekali tidak fleksibel. Organisasi seperti ini dicirikan dengan struktur organisasi yang sangat berjenjang, dan melangkahi struktur dipandang sebagai kesalahan serius. Akibatnya keputusan menjadi lambat. Sebaliknya di ekstrim yang lain, beberapa organisasi mementingkan agility. Kecepatan sangat penting, dan inovasi, kreativitas, serta sikap proaktif adalah kata-kata kuncinya.

Dalam Dimensi Hubungan, di satu ekstrim kita melihat beberapa organisasi memiliki budaya kekeluargaan. Di sini setiap karyawan dipandang sebagai saudara, dan hubungan atasan dengan bawahan sangat erat. Turnover biasanya rendah dan berlaku “Sama Rata Sama Rasa.” Di ekstrim yang lain, ada juga organisasi dengan fokus pada kinerja. Dalam organisasi ini, yang penting adalah kinerja, yang menentukan segalanya, termasuk bonus, gaji, dan pergerakan karir.

Mana budaya yang terbaik? Tentu sulit untuk menjawabnya, hanya saja banyak survey yang dilakukan GML Performance Consulting dan Lutan Edukasi menunjukkan bahwa sebagian besar organisasi saat ini semakin bergerak ke arah inovasi, dan fokus pada kinerja, baik di organisasi publik maupun swasta. Ini tentunya didorong oleh reformasi birokrasi yang sudah dijalankan pemerintah, pergeseran generasi yang terjadi di berbagai organisasi, dan lingkungan persaingan yang semakin ketat.

Di sinilah pimpinan organisasi memegang peranan penting, untuk membentuk Leadership Culture yang sehat dalam organisasi. Apa yang mereka lakukan menentukan iklim budaya dalam organisasi. Bagaimana pun kita semua sadar bahwa tindakan lebih banyak berbicara daripada sekedar poster tentang budaya organisasi yang ditempel di dinding lobby.

Jadi apa yang dapat dilakukan pemimpin untuk membangun budaya yang sehat dalam organisasi? Berikut adalah beberapa tips.

Tips yang pertama yaitu Artikulasikan visi. Sering-seringlah bicarakan dengan tim Anda, ke mana arah organisasi ini. Ceritakan gambaran visual yang jelas tentang apa yang akan dicapai, dan apa yang dilakukan untuk mencapainya.

Selanjutnya tips yang kedua yaitu Fokus pada kebutuhan para pemangku kepentingan. Budaya ini perlu dikembangkan untuk menjadi lebih lincah, karena beberapa organisasi lebih mementingkan kepatuhan pada prosedur internal, yang mungkin sudah kedaluarsa, dibandingkan dengan usaha untuk memuaskan kebutuhan para pemangku kepentingan.

Tips yang ketiga, Kelola secara horizontal.  Istilah “ego sektoral” atau silo terjadi di banyak organisasi. Setiap unit mengutamakan kepentingan diri sendiri, dibandingkan bekerja sama secara luwes dengan unit lain. Inilah yang harus dipangkas dengan cara mengelola pekerjaan secara horizontal atau orientasi yang lebih tinggi pada proses.

Tips yang terakhir yaitu Ciptakan kredibilitas. Ini berkaitan dengan integritas untuk tetap berani mengambil keputusan yang tepat, dalam situasi sesulit apa pun.

Ketika para pemimpin organisasi – di semua tingkatan – menerapkan keempat hal ini, maka mereka telah mendukung terbentuknya budaya kepemimpinan yang sehat dalam organisasi.

 

Daniel Wirajaya

VP Lutan Consulting Services

Lainnya :

comments powered by Disqus