Menyiapkan Pemimpin Di Garda Depan


David baru saja dipromosikan menjadi seorang Pemimpin Cabang di kota Semarang, sebelumnya David menjabat sebagai Area Sales Manager (ASM) untuk wilayah Tegal selama 2 tahun. Prestasi kerja yang baik, membuat organisasi mempromosikan David menjadi kepala cabang Semarang. Sebagai pemimpin baru, David diberikan tanggung jawab untuk mengelola tim kerjanya yang terdiri dari 3 orang ASM dan mencapai target cabang untuk naik 30 % dari tahun sebelumnya. Setelah 6 bulan berjalan, David merasa pencapaian cabang yang dipimpinnya tidak berjalan seperti yang direncanakan, dan mulai menjadi beban pribadi dirinya untuk dapat mencapai target Cabang Semarang.

Hal yang David alami merupakan permasalahan yang kerap kali dihadapi oleh orang yang baru menjadi pemimpin cabang. Secara struktur organisasi, pemimpin di cabang merupakan kepanjangan tangan dari organisasi untuk di wilayah/daerah tertentu, dan mereka merupakan wakil dari manajemen pusat, yang diharapkan mampu beradaptasi dan berkontribusi dengan lingkungan yang menjadi tanggungjawabnya.

Seringkali pembekalan dan pemberdayaan yang diberikan kepada calon pemimpin cabang baru sangatlah minim. Konsep “DukDik” dan “DikDuk” acap kali kita dengar pada saat ada pergantian pimpinan baru disebuah organisasi. “DukDik” adalah di mana seorang ditempatkan dulu (Duduk) diposisinya, baru setelah itu dikembangkan (Didik) sesuai dengan kompetensi jabatan yang dipersyaratkan. Sebaliknya dengan “DikDuk”, seseorang di kembangkan dan dipersiapkan (Didik) terlebih dahulu, baru setelah itu ditempatkan (Duduk) pada posisi yang sesuai. Konsep DikDuk maupun DukDik merupakan konsep sederhana dalam menyiapkan seorang pemimpin baru, akan tetapi hal ini sulit sekali dapat direalisasikan. Pertumbuhan organisasi yang cepat dan waktu yang cepat menjadi alasan utama, mengapa organisasi lebih cenderung memfokuskan kepada pencapaian target, dibanding dengan pengembangan dan pemberdayaan kompetensi dari calon pemimpin cabang.

Sebagai seorang pemimpin cabang tentunya ada beberapa tantangan yang mereka harus dijalani. Tantangan pertama, mereka ditantang untuk dapat membuat strategi bisnis yang berbeda dengan mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki serta mampu memenangkan peperangan di area yang menjadi tanggung jawabnya. Dalam persaingan bisnis yang ketat, hal yang wajar bila ada organisasi yang terlempar dari persaingan hingga harus menutup cabangnya di area tertentu. Sun Tzu mengatakan “Apa yang terpenting dalam sebuah perang adalah dengan menyerang strategi musuh”. Pimpinan cabang perlu mencermati dan menyerang strategi bisnis lawan dibandingkan terjebak dengan urusan operasional di lapangan. Selain mampu membuat strategi yang tepat, pimpinan cabang harus mampu melakukan pengambilan keputusan yang cepat dengan mempertimbangkan berbagai masalah mengenai ambiguitas, ketidakpastian, risiko dan kegagalan. Menurut Peter Drucker,”every decision is like surgery. It is an intervention into a system and therefore carries with the risk of a shock”. Memang setiap keputusan pasti ada akibatnya, dapat baik atau buruk, namun seorang pemimpin cabang harus berani mengambil resiko dan menanggung akibat dari keputusan yang diambilnya. Hal tersebut selaras dengan yang katakan oleh petinju legendaris Muhammad Ali “Barangsiapa yang tidak berani mengambil resiko, maka dia tidak akan pernah mencapai apapun dalam kehidupannya”.

Tantangan kedua adalah kemampuan di dalam membangun jaringan kerja (network) dan hubungan positif dengan para stakeholder di daerah, Theodore Roosevelt mengatakan bahwa “Bahan paling penting untuk membangun kesuksesan adalah mengetahui bagaimana bergaul dengan banyak orang”. Seorang pemimpin cabang perlu untuk membangun pondasi hubungan dengan orang lain, karena tanpa kemampuan tersebut maka cabang yang dipimpinnya akan menghadapi banyak kesulitan. Semakin banyak hubungan dengan orang lain, maka semakin banyak pula relasi yang terbentuk. Dari banyaknya relasi tersebut dapat dipelajari kekuatan dan kekurangannya, sehingga bisa dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan.

Hal yang perlu direnungkan bersama adalah seberapa besar fokus organisasi anda di dalam menyiapkan pemimpin-pemimpin di garis depan, dan bagaimana anda menyiapkan diri sendiri untuk dapat menjadi pemimpin yang sukses ………

 

Bayu Setiaji

VP Training Delivery – PT Lutan Edukasi 


Lainnya :

comments powered by Disqus