Individualisme dan Penilaian Kinerja


Coba jawab pertanyaan di bawah ini:

Cacat produksi terjadi di sebuah pabrik, yang disebabkan oleh kelalaian salah seorang anggota tim. Siapa yang bertanggung jawab?

  1. Orang yang lalai terbesebut adalah orang yang bertanggung jawab.
  2. Karena ia adalah anggota tim, maka keseluruhan tim bertanggung jawab.

Pertanyaan di atas salah satu dari sekian puluh pertanyaan yang digunakan oleh Fons Trompenaars untuk mengukur dimensi budaya di seluruh dunia. Pertanyaan di atas berkaitan dengan tingkat individualisme di berbagai kelompok masyarakat. Selain itu, ia juga mengukur beberapa dimensi lainnya dari budaya, dan hasilnya dituangkan dalam buku Riding the Waves of Culture.

Bagaimana jawaban Anda terhadap pertanyaan di atas? Jika Anda memilih B, jawaban Anda sama dengan mayoritas responden dari Indonesia. Trompenaars menyebutkan bahwa hanya ada 13% responden dari Indonesia yang menjawab A, yang terendah di antara semua negara yang disurvei. Negara dengan persentase responden tertinggi yang memilih A adalah Rusia, dengan 68%. Hasil ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih kental dengan budaya kekeluargaan dan gotong royong.

Apakah ini buruk? Apakah untuk maju kita perlu bergerak menjadi masyarakat yang lebih individualistis? Banyak orang mengkaitkan individualisme dengan negara industri yang modern, seperti negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat. Tetapi apakah benar demikian?

Mari kita ambil contohnya negara Amerika Serikat. Kita selama ini mengenal AS sebagai negara dengan tingkat individualisme yang tertinggi, dan memang survei Trompenaars menunjukkan demikian. Tetapi bahkan di AS sekalipun, saat ini telah muncul pandangan bahwa individualisme yang terlalu tinggi dapat melemahkan infrastruktur industri mereka. Informasi saat ini perlu dibagikan dengan cepat untuk mendukung daya saing, dan informasi hanya dapat bergerak cepat ketika setiap orang yang punya informasi tidak menahannya untuk dirinya sendiri. Ini hanya dapat dimungkinkan terjadi dalam masyarakat yang lebih kolektif.

Selain itu, bangkitnya negara-negara “macan Asia” seperti Jepang, China, dan Korea Selatan, menunjukkan bahwa pandangan individualisme sama dengan masyarakat modern tidak bisa dibenarkan. Negara-negara tersebut tetap dapat bersaing secara global sambil tetap mempertahankan budaya kekeluargaan dan kebersamaan.

Setelah itu, apakah penerapan Key Performance Indicators (KPI) untuk mengukur kinerja individu mendorong sikap invidualisme? Di sinilah kita perlu berhati-hati. Ketika KPI tidak ditetapkan secara baik, jawabannya adalah “Ya”. Beberapa kali kita mendengar jawaban, “Itu bukan KPI saya,” ketika seorang karyawan tidak mau mengerjakan tugas tertentu, karena memandang tugas tersebut tidak membantu ia mencapai KPI-nya, walaupun sebenarnya tugas tersebut mendorong kinerja bersama.

Di sinilah pentingnya vertical alignment dan horizontal alignment. Sasaran kinerja perlu diturunkan dari puncak sampai ke level individu, sehingga setiap orang dalam organisasi melangkah ke arah yang sama. Selain itu, sasaran satu unit kerja perlu juga diselaraskan dengan sasaran unit kerja lainnya, sehingga terjadi kerja sama yang apik di antara keduanya dan bagian-bagian lainnya dari organisasi.

Penerapan KPI individu di dalam organisasi seharusnya tidak mendorong orang-orang di dalamnya untuk menjadi individualistis. Sebaliknya, ketika disusun dengan baik, malah akan mendorong sinergi dan sikap kebersamaan untuk saling mendukung kinerja bersama. Ketika ini tercapai, eksekusi strategi menjadi tindakan sehari-hari yang dilakukan dalam organisasi. Di sinilah pentingnya peran para manajer lini dalam organisasi untuk mencapai hal ini sehingga menjadi menyataan.

SPEx2 (Strategy into Performance Execution Excellence) for Line Managers Framework

SPEx2 (Strategy into Performance Execution Excellence)

for Line Managers Framework

Daniel Wirajaya

Vice President – Lutan Edukasi Consulting Services


Lainnya :

comments powered by Disqus