BELAJAR KEPEMIMPINAN DARI TOKOH SUPERHERO


Rudy baru saja dipromosikan menjadi seorang manajer produksi, di mana sebelumnya ia adalah seorang supervisor di salah satu unit produksi. Rudy cukup kebingungan dengan tugas dan tanggung jawabnya yang sekarang, berbeda jauh dengan sewaktu ia menjadi supervisor. Saat ini Rudy dituntut tidak hanya menguasai teknis, akan tetapi juga harus mampu mengelola tim di bawahnya yang jumlahnya jauh lebih banyak dan lebih kompleks. Rudi menyadari, promosi ini merupakan tantangan tersendiri, di mana sebagai seorang manajer ia harus merubah pola kepemimpinannya dengan mengembangkan keahlian baru yang berbeda dengan posisi  sebelumnya.

Rudi teringat akan sebuah film action dari Marvell yang baru ditonton akhir minggu lalu bersama istrinya yaitu Captain America: Civil War. Rudy melihat ada dua karakter kepemimpinan yang berbeda antara Bruce Banner (Captain Amerika) dengan Tony Stark (Iron Man), di mana keduanya memiliki visi yang sama dalam menciptakan perdamaian dunia, akan tetapi berbeda dalam proses pencapaiannya. Tony Stark cenderung berprinsip untuk membuat peraturan yang mengatur semua super hero yang ada dengan aturan yang baku sehingga mudah untuk dimonitor. Lain halnya dengan prinsip Bruce Banner, yang cenderung lebih menekankan keberanian, kepedulian dan rasa tanggungjawab. Dikisahkan dalam film tersebut akhirnya mereka secara tidak sadar membentuk tim yang berbeda dan berperang untuk mempertahankan prinsipnya tersebut.

Rudi merenungkan kedua karakter kepemimpinan tersebut, dan ia tidak ingin menjadikan dirinya seperti Toni Stark ataupun Bruce Banner secara mutlak, karena akan memberikan risiko tertentu bagi timnya. Rudi berpendapat bahwa, karakter Toni Stark lebih cenderung procedural, on track dan menjaga keteraturan, sedangkan Bruce Banner lebih menekankan kepada kepedulian, kebersamaan dan rasa tanggungjawab. Menurutnya dua karakter yang berbeda tersebut terkadang dirasa perlu pada saat mengelola tim kerjanya, sehingga tim akan selalu merasa termotivasi dalam memberikan hasil yang terbaik, akan tetapi tidak melepaskan unsur keteraturan dan prosedur yang harus dilakukan.

Berbicara kepemimpinan, menurut John Maxwell “Leadership is influence, Everything rises and falls on leadership”, hal yang sama juga dikatakan Ken Blanchard dalam bukunya One minute Manager menyatakan ” The key to successful leadership in influence, not authority”.  Intinya seorang pemimpin harus dapat memberikan pengaruh bagi tim yang dipimpinnya, agar pencapaian target kinerja dapat terealisasi.

Melihat kasus Rudi di atas, kita dapat mempelajari, bahwa seorang pemimpin harus mampu mempengaruhi timnya secara seimbang. Pengaruh yang dimaksudkan adalah pemimpin perlu untuk bertindak tegas dan ‘memaksa’ timnya untuk mengikuti aturan yang berlaku agar menjaga keteraturan dalam mencapai target kinerja. Akan tetapi, ada yang perlu diperhatikan yaitu pemimpin perlu juga untuk menjaga hubungan serta motivasi tim dengan memperhatikan sisi kemanusiaan, kepedulian dan tanggungjawab dari masing-masing anggota tim.

Beberapa hal yang dapat meningkatkan pengaruh seorang pemimpin dalam mengelola tim kerjanya, Pertama, pemimpin harus memiliki visi yang jelas. Menurut Raph Lauren “Seorang pemimpin memiliki visi dan keyakinan bahwa mimpi dapat dicapai, ia menginspirasi kekuatan dan energi untuk menyelesaikannya”.

Kedua, pemimpin harus mampu membangun hubungan. Menurut  Theodore Roosevelt “ Hal yang paling penting didalam membangun kesuksesan adalah dengan mengetahui bagaimana berhubungan dengan banyak orang”. Fondasi hubungan yang kuat dengan relasi akan akan membuat ikatan emosional tersendiri, sehingga ketika kita membutuhkan bantuan, maka dengan mudah relasi kita akan memberikan bantuan.

Ketiga, pemimpin harus mampu memberdayakan tim. Mengkondisikan tim untuk dapat mengeluarkan sagala kemampuan dan potensi yang dimiliki, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut John Maxwell “Berhasil tidaknya pemimpin dapat diukur dari seberapa sukses regenerasi yang dilakukan”, pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mampu menghasilkan pemimpin-pemimpin baru yang siap untuk menggantikannya.

Keempat, pemimpin yang mampu memberikan hasil. Peter Drucker mengatakan “effective leadership is not about making speech or being liked, leadership is defined by results not attributes”, hal ini menunjukkan pemahaman bahwa seorang pemimpin tidak hanya berbicara, tetapi mereka juga akan “berjalan”, dan menunjukkan jalan saat mereka telah sukses.

Keempat hal di atas, merupakan cermin bagi kita sebagai pemimpin, apakah kita sudah mampu menyeimbangkan peran kita, sehingga mampu mendorong tim menjadi lebih termotivasi didalam mencapai tujuan bersama?

 

BAYU SETIAJI

VP TRAINING DELIVERY

PT LUTAN EDUKASI


Lainnya :

comments powered by Disqus