3B yang Berbahaya


Belum lama ini, Doug Lipp, salah se orang pembicara paling terkemuka saat ini dalam bidang kepemimpinan dan budaya organisasi, menceritakan tentang percakapannya dengan Greg Hicks, pendiri dan pemilik Impressions Catering, yang berpusat di Cleveland, Tennessee. Singkat cerita, kesimpulan dari percakapan mereka adalah tiga “B” yang berbahaya buat organisasi, yaitu:

Busy – Tidak punya fokus. Mencoba untuk menjadi segalanya bagi semua orang.

Burned out – Kelelahan, karena terlalu banyak masalah-masalah yang mendesak yang harus ditangani saat ini juga, sehingga inisiatif strategis untuk jangka  panjang terabaikan.

Broke – Angka-angka finansial tidak memberikan hasil yang diharapkan, karena margin laba yang tergerus oleh banyaknya masalah-masalah yang timbul.

ketiganya ini sebetulnya berkaitan. Ketika organisasi tidak fokus, kita tidak akan dapat memberikan produk dan jasa yang unggul. Akibatnya, Secara internal, para karyawan juga tidak akan merasakan keterikatan dengan organisasi, karena mereka tidak merasakan kebanggaan sebagai bagian dari organisasi tersebut. Di lain pihak, para pelanggan juga tidak akan merasa puas dengan apa yang mereka terima, sehingga muncul berbagai masalah baik internal mapun eksternal. Akibat berikutnya, kita menjadi “burned out” karena harus menangani semua masalah yang bertubi-tubi dan, yang terakhir, pencapaian secara finansial akan menderita.

Greg Hicks mengatakan, “Saya akhirnya belajar, ‘Anda tidak akan menjadi siapa-siapa bagi seorang pun’, jika ‘Anda mencoba untuk menjadi segalanya bagi semua orang’.”

Hal yang sebaliknya telah dilakukan oleh Disney, seperti yang ditunjukkan oleh “peta strategi” yang dibuat pada tahun 1957 ini. Peta ini merupakan resep yang ditinggalkan oleh Walt Disney agar perusahaan yang didirikannya dapat berkembang secara berkelanjutan.

Peta ini menunjukkan bahwa apa pun yang dilakukan oleh Disney, selalu memiliki keterkaitan strategis antara yang satu dengan yang lain. Ketika Disney membuat sebuah film, itu bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Film itu dapat menjadi wahana baru di Disneyland, dan merchandise-nya dapat dijual. Lalu dapat dibuatkan pula buku komik yang terkait. Selain itu, film itu juga dapat jadi bahan untuk publikasi buku, dan buku itu pada gilirannya akan menjadi film yang berikutnya. Demikian pula sebaliknya, sebuah wahana di Disneyland dapat menjadi film, merchandise, dan sebagainya. Contohnya adalah Pirate of the Caribbean, yang semula merupakan wahana atraksi di Disneyland, sekarang telah menjadi seri film dengan pendapatan lebih dari $3 milyar dollar, dan seri kelimanya akan segera dapat kita nikmati.

Semua unit bisnis ini saling mendukung satu sama lain, sehingga semua bagian dari perusahaan memiliki orientasi dan fokus yang sama.

Peta ini sudah berumur 60 tahun, dan Disney sekarang secara organisasi tentu sudah jauh lebih besar dibandingkan pada saat peta ini dibuat. Tetapi filosofinya tetaplah sama. Keterkaitan antara satu bisnis dengan bisnis yang lain telah membuat Disney menjadi konglomerat media global.

Doug Lipp, sebagai salah seorang tokoh di balik Disney, akan menceritakan lebih rinci lagi tentang faktor kepemimpinan dan budaya yang ada di balik kesuksesan Disney, dalam seminar yang akan diadakan ini.

Daniel Wirajaya

VP Lutan Consulting Services

Lainnya :

comments powered by Disqus