Trend Dewasa Ini dan Dampaknya Terhadap E-Learning


 Peter Drucker adalah orang pertama yang mencetuskan istilah “knowledge worker” untuk menggambarkan kebutuhan akan karyawan yang kita butuhkan dewasa ini, yaitu orang-orang yang menggunakan dan mengembangkan pengetahuan dalam organisasi, untuk meningkatkan daya saingnya. Program-program Learning & Development (L&D) dalam organisasi harus menjawab kebutuhan ini dan harus terus mengikuti dinamika yang berlangsung secara internal maupun eksternal. Artikel ini akan mencoba melihat beberapa trend yang sedang berlangsung saat ini dan melihat dampaknya terhadap proses L&D yang ada dalam organisasi di Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan implementasi e-learning.

Trend #1: Bangkitnya generasi angkatan kerja yang baru. Beberapa orang telah membicarakan tentang bangkitnya angkatan kerja yang baru di Indonesia ini, yang jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka adalah generasi yang tumbuh besar bersama dengan Facebook, Twitter, dan jejaring sosial lainnya. Teknologi sudah menjadi mainan sehari-hari bagi mereka, dan sama sekali bukan merupakan momok seperti yang menghantui generasi sebelumnya. Merekalah yang akan mengisi angkatan kerja dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini akan mendorong adopsi e-learning di berbagai organisasi untuk dapat bergerak lebih cepat dengan tingkat resistensi yang lebih rendah.

Trend #2: Program L&D yang ada di dalam sebuah organisasi akan semakin dituntut untuk sejajar (aligned) dengan strategi.  Pada tahun-tahun yang sudah lewat, bagian L&D menjadi bagian penyedia jasa pelatihan bagi departemen-departemen lainnya. Model kerjanya adalah departemen-departemen meminta pelatihan untuk topik tertentu, dan lalu bagian L&D bertugas untuk mencarikan vendor dan melaksanakan kegiatan pelatihan. Sekarang situasi sudah berubah. Sementara organisasi-organisasi bergerak untuk menjadi Strategy and Performance-Focused Organizations, bagian L&D juga dituntut untuk memberikan dampak yang terukur terhadap bisnis dan implementasi strategi. Hal ini akan mendorong penerapan Learning Management System, yang memungkinkin analisa yang lebih komprehensif terhadap kontribusi L&D yang dapat dikuantifikasi.

Trend #3: Para manajer lini akan didorong untuk memiliki kepemilikan yang lebih besar terhadap proses pengembangan para bawahannya. Sementara proses L&D perlu semakin sejajar dengan strategi, kontribusi para manajer lini juga perlu semakin dikembangkan untuk menjadi “owner” dari proses pengembangan bagi orang-orang yang ada di bawahnya. Faktor ini akan mendorong bagian L&D untuk menjadi konsultan internal bagi organisasinya.

Trend #4: Teknologi wireless memungkinkan “any time, any where learning”. Jaringan wifi saat ini sudah semakin tersebar dan kecepatan akses internet semakin tahun menjadi semakin cepat dan semakin murah. Kemudahan teknologi ini akan mendorong akses e-learning yang semakin baik dan mudah dijangkau. Sementara itu, hal ini juga akan menggerakkan e-learning ke arah mobile learning, yang memungkinkan konten pembelajaran yang spesifik untuk diakses melalui perangkat mobile.

Trend #5: Pemanfaatan learning game akan membuat e-learning semakin interaktif. Berbagai studi telah dilakukan tentang pemanfaatan game untuk mendukung proses pembelajaran dengan hasil-hasil yang positif. Mereka menemukan bahwa teknologi game dapat digunakan untuk menghasilkan pengalaman belajar yang memorable and meaningful. Pengalaman belajar itu akan menjadi sesuatu yang mudah diingat bagi mereka, sambil sekaligus memberikan dampak positif terhadap peningkatan kinerja.


Lainnya :

comments powered by Disqus