Mitos Tentang Kekuatan


Beberapa tahun yang lalu, dilakukan sebuah studi untuk melihat manfaat dari sebuah pelatihan. Studi ini melibatkan dua kelompok pembaca. Kelompok pertama adalah orang-orang yang lambat dalam membaca dan memiliki kecepatan membaca yang di bawah rata-rata, yaitu 85 kata per menit. Kelompok kedua adalah orang-orang yang dapat membaca di atas rata-rata dengan kcepatan 300 kata per menit. Kedua kelompok ini lalu mengikuti pelatihan Teknik Membaca Cepat selama tiga minggu.

Di akhir pelatihan, kecepatan membaca dari kedua kelompok ini kembali diukur. Dapatkah Anda memperkirakan hasilnya? Menurut Anda, kelompok mana yang memiliki persentase peningkatan paling tinggi?

Jika Anda menjawab bahwa kelompok yang akan mendapat manfaat paling besar dari pelatihan ini adalah mereka yang memiliki kecepatan membaca yang di bawah rata-rata, maka jawaban Anda itu salah. Itu adalah sebuah mitos tentang kekuatan dan kelemahan kita, yang kira-kira berbunyi bahwa kita akan mengalami perkembangan yang paling signifikan ketika kita berusaha mengembangkan diri di area yang menjadi kelemahan kita.

Ini adalah mitos yang umum di masyarakat. Bayangkan seorang Ibu yang memiliki anak yang duduk di kelas 2 SD. Anaknya ini memiliki nilai 6 untuk Bahasa Inggris, dan nilai 9 untuk Matematika. Apa yang akan dilakukan ibu tersebut? Pasti ibu itu akan mendorong anaknya untuk terus belajar Bahasa Inggris untuk meningkatkan nilainya. Sementara untuk mata pelajaran Matematika yang sudah dikuasainya dengan baik, ibu itu tidak terlalu memusingkannya.

Studi di atas yang dilakukan oleh Gallup Organization ternyata menunjukkan hasil yang menarik. Kelompok yang pada awalnya memiliki kecepatan membaca di bawah rata-rata hanya menunjukkan peningkatan sekitar 50%, jadi kecepatan membaca mereka naik menjadi 134 kata per menit. Sebaliknya, mereka yang memang memiliki kecepatan membaca di atas rata-rata menunjukkan peningkatan yang luar biasa setelah mengikuti pelatihan. Kecepatan membaca mereka naik 600% menjadi 1.800 kata per menit

Studi ini menunjukkan bahwa kita akan mendapatkan manfaat paling besar ketika kita mengembangkan diri dalam bidang-bidang yang memang menjadi kekuatan kita. Contohnya, saya adalah seorang yang sangat tidak bisa bernegosiasi. Misalnya saja nilai kompetensi negosiasi saya saat ini adalah 2.0 dalam skala 1 – 5. Saya bisa saja mengikuti berbagai pelatihan tentang negosiasi untuk meningkatkan diri saya di bidang ini. Dan sebagai hasilnya, tentu kompetensi negosiasi saya akan meningkat, mungkin menjadi 2.5. Namun tidak mungkin bagi saya untuk meningkatkannya menjadi 4.5 karena itu bukanlah kekuatan saya. 

Mitos ini telah lama mengekang dan membatasi pertumbuhan kita. Banyak sekali pelatihan diakhiri dengan sebuah sesi di mana setiap peserta diminta untuk menuliskan bidang-bidang di mana ia perlu mengembangkan diri, serta menetapkan langkah-langkah tindakan yang spesifik untuk mengembangkan diri di bidang itu. Ini adalah pendekatan yang keliru. Seharusnya adalah para peserta didorong untuk mengidentifikasi apa yang menjadi kekuatan mereka dan membuat rencana yang jelas untuk mengembangkan diri di bidang tersebut. Ini akan memberikan manfaat yang jauh lebih bermakna.

Pemahaman tentang hal ini akan menghadirkan perubahan yang besar, baik secara pribadi maupun organsiasi. Hal ini akan mengubah cara kita mendidik anak-anak kita. Program-program pelatihan dan pengembangan yang dilakukan oleh berbagai organisasi juga perlu diubah secara signifikan. Bahkan berbagai bidang lainnya dalam pengelolaan sumber daya manusia juga akan mengalami dampak, mulai dari rekrutmen, pola karir, penilaian kinerja, perencanaan suksesi, dan sebagainya. Karena itulah, Marcus Buckingham menyebutnya sebagai Strengh Revolution, sebuah revolusi di mana kita semua bukan lagi terpaku pada kelemahan kita, tetapi sebaliknya mengarahkan setiap usaha untuk semakin berkembang dalam bidang-bidang yang menjadi kekuatan kita, dan dengan cara itulah kita akan mendapatkan hasil yang paling optimal.

Lainnya :

comments powered by Disqus