Kompetensi Communication and Influencing bagi Manajer Lini


Minggu lalu kita membahas kompetensi Thinking beyond the Horizon. Dalam kompetensi ini, kita sudah melihat bagaimana seorang manajer lini harus bisa keluar dari rutinitas sehari-hari dan memfokuskan waktu dan energinya untuk mencapai sejumlah sasaran dan inisiatif strategis yang benar-benar penting untuk dicapai.
Mari kita bayangkan seorang manajer lini, katakanlah namanya Adit. Ia memiliki empat orang anggota tim di bawahnya, yaitu Badit, Cadit, Dadit, dan Edit. 
Segera setelah memiliki sasaran dan program kerja yang harus dicapainya, Adit langsung mengumpulkan keempat anggota timnya. Ia menjelaskan sasaran-sasaran ini dan meminta komitmen dari mereka semua untuk mendukungnya.
Ternyata reaksi mereka berempat sangat berlainan. Badit langsung protes dan mengatakan bahwa sasaran itu terlalu tinggi dan tidak mungkin untuk dicapai. Ia juga menunjukkan berbagai program kerja serupa yang pernah diupayakan pada tahun-tahun yang lalu tetapi tidak memberi hasil. Ketika Adit berusaha meyakinkannya bahwa sasaran-sasaran ini adalah realistis untuk dicapai, Badit tetap bertahan pada pendapatnya, dan akibatnya yang terjadi adalah perdebatan.
Berbeda dengan Badit, Cadit terdiam dan tidak mau memberikan komentar apa-apa. Ia sepertinya hanya mau menjadi penonton dan tidak mau terlibat. Demikian pula dengan Dadit. Ia hanya mengatakan terserah saja, tetapi tidak mau menunjukkan komitmen yang jelas.
Yang paling menunjukkan sikap positif adalah Edit. Ketika Badit mengajukan protes, ia langsung menunjukkan bahwa ini adalah saatnya bagi organisasi untuk bertumbuh dan bergerak maju. Ia mendukung penuh semua sasaran dan program kerja yang telah ditetapkan oleh atasannya, dan secara lantang mengungkapkan komitmennya.
Sikap keempat orang ini menunjukkan keragaman sikap yang perlu dihadapi oleh seorang manajer lini. Ia harus mampu menangani semua kompleksitas ini agar ia dapat menyatukan langkah setiap anggota timnya untuk bergerak bersama. Karena itulah, kompetensi kedua yang harus dikuasasi oleh seorang manajer lini untuk menjadi seorang eksekutor yang tangguh adalah Communication and Influencing.

 Seorang manajer lini tidak dapat mencapai semua sendirian. Sebagai seorang manajer, ia perlu mencapai hasil melalui orang lain. Karena itulah, ia harus mengkomunikasikan semua sasaran dan program kerja kepada para anggota timnya. Ia harus menyatukan visi timnya, dan mendorong setiap orang untuk memainkan perannya dalam mencapai sasaran.
Selanjutnya, seorang manajer lini perlu menangani setiap penolakan yang mungkin timbul dari para anggota timnya. Ini adalah sesuatu yang lumrah dan tidak perlu dipandang secara negatif. Setiap orang menghadapi perubahan dengan caranya sendiri-sendiri. Beberapa orang langsung sigap untuk menanggapi perubahan, sementara yang lainnya memerlukan waktu yang lebih lama untuk beradaptasi. Beberapa orang ingin menjadi pionir, sementara yang lainnya lebih mengambil sikap menunggu. Dan beberapa yang lain adalah para pengkritik yang vokal. Yang penting adalah peran seorang manajer lini untuk menangani semua sikap ini dan mengarahkan semua anggota tim untuk melangkah bersama.
Setelah itu, seorang manajer lini harus membangun komitmen semua anggota tim untuk menjalankan perannya masing-masing dan bekerja sama mencapai sasaran dan menyelesaikan semua inisiatif yang telah ditetapkan. 
Kompetensi Communication and Influencing seperti inilah yang diperlukan oleh setiap manajer lini untuk melakukan eksekusi strategi. 

Lainnya :

comments powered by Disqus