Strength Revolution: Revolusi dalam Manajemen Sumber Daya Manusia



Kita semua mengenal Warren Buffet. Majalah Forbes mencatatnya sebagai orang yang paling kaya nomor dua di Amerika Serikat dan nomor tiga di seluruh dunia untuk tahun 2011 ini. Ketika ia ditanya tentang apa yang menjadi kunci suksesnya selama ini, ia menjawab bahwa ia berhasil karena ia begitu mencintai pekerjaannya sehingga sejak awal karirnya ia bersedia membayar untuk dapat mengerjakan pekerjaannya itu. 


Bisa Anda bayangkan bagaimana sikap seorang seperti Waren Buffet ini dalam bekerja? Ia pasti akan begitu menikmati proses bekerja itu sendiri. Ia akan menjadi begitu asyik dan terbenam dalam pekerjaannya sehingga waktu berlalu tanpa terasa. Ia akan terus berusaha menghasilkan yang terbaik dan tidak berpuas diri dengan hasil yang mediocre. Dan ia pasti akan terus berusaha meningkatkan diri untuk terus mengikuti perkembangan terkini dalam bidang yang digelutinya.

Warren Buffet mengatakan: “Orang-orang yang mencintai uang lebih daripada pekerjaan mereka menggunakan hidup mereka untuk bekerja dalam kesengsaraan dan biasanya akhirnya mendapatkan jauh lebih sedikit daripada jika mereka mengikuti hati mereka sejak awal.”

Pandangan Warren Buffet ini konsisten dengan hasil survey yang dilakukan oleh Marcus Buckingham bersama Gallup Survey. Dalam sebuah riset yang melibatkan satu juta karyawan di seluruh dunia, Gallup menemukan bahwa ada 12 pertanyaan yang memiliki korelasi paling tinggi dengan keberhasilan organisasi (yang diukur dengan profitabilitas, kepuasan pelanggan dan kepuasan karyawan). 

Salah satu dari ke-12 pertanyaan itu adalah: “Dalam pekerjaan saya, apakah saya berkesempatan untuk melakukan apa yang dapat paling baik saya lakukan setiap harinya?” Pertanyaan ini diajukan kepada 198.000 karyawan di 7.939 unit bisnis. Ketika mereka menjawab “Sangat Setuju” terhadap pertanyaan ini, maka terhadap kemungkinan 50 persen lebih tinggi bahwa mereka bekerja dalam unit bisnis dengan employee turnover yang lebih rendah, kemungkinan 38% lebih tinggi untuk bekerja di unit bisnis yang lebih produktif, dan kemungkinan 44 persen lebih tinggi untuk bekerja dalam unit bisnis dengan tingkat kepuasan pelanggan yang lebih tinggi. Dengan kata lain, ketika orang-orang di sebuah organisasi menggunakan kekuatan mereka setiap hari, maka mereka akan memiliki kepuasan kerja yang lebih tinggi dan organisasi tersebut menjadi lebih berhasil. 

Sayangnya adalah ketika pertanyaan yang sama ini diajukan kepada 1,7 juta karyawan di 101 perusahaan yang tersebar di 63 negara, menurut Anda berapa persen karyawan yang menjawab “Sangat Setuju” untuk pertanyaan tersebut? Hanya dua puluh persen! Ini adalah seperti sebuah pabrik yang beroperasi bertahun-tahun dengan hanya menggunakan 20 persen dari kapasitas produksi yang dimilikinya. 

Tetapi di sisi lainnya, ketika kita melihatnya secara positive thinking, angka 20 persen ini berarti ada begitu banyak peluang bagi kita untuk menghasilkan perbaikan. Dan peningkatan inilah yang ingin dicapai oleh Strength Revolution. 

Strength Revolution ini didasari oleh satu prinsip yang sederhana: Organisasi bukan hanya harus menerima fakta bahwa setiap individu itu unik, tetapi juga harus memanfaatkan keunikan setiap orang tersebut sehingga menjadi kekuatan yang mendorong pertumbuhan organisasi. Hal ini disebut sebagai sebuah “Revolusi” karena bertentangan dengan apa yang biasa dilakukan organisasi-organisasi selama ini. Kebanyakan organisasi memfokuskan pada bidang yang menjadi kelemahan para karyawannya dengan menyebutnya sebagai “competency gap” atau “areas for improvement”. Pandangan ini didasari oleh asumsi bahwa seseorang dapat paling berkembang dalam bidang-bidang yang menjadi kelemahannya selama ini.

Strength Revolution justru menunjukkan pandangan yang berlawanan dengan asumsi di atas. Seseorang justru paling dapat berkembang dalam bidang-bidang yang menjadi kekuatannya selama ini. Ketika keunikan talenta setiap orang dimanfaatkan secara optimal dalam sebuah organisasi, maka organisasi itu juga akan berjalan dengan kapasitas penuh untuk menuju kinerja puncaknya.

Sebagai sebuah revolution, ini akan mengubah banyak practices yang selama ini sudah digunakan secara luas dalam bidang Manajemen Sumber Daya Manusia, mulai dari rekrutmen, pelatihan dan pengembangan, manajemen kinerja, perencanaan karir, dan lain-lain. Revolusi ini akan menghasilkan ke Strength-Based Human Resources Management, yang diharapkan dapat menghasilkan Warren Buffet-Warren Buffet muda yang bekerja dengan sepenuh hati dalam organisasi kita.


Lainnya :

comments powered by Disqus