Berubah atau Mati


Written by Lukmansyah Rifai Amirudin

 


Perubahan merupakan proses alamiah. Selama masih menjadi bagian dari alam, jangan berani mengatakan diri tak akan pernah berubah. Salah satu teori Darwin mengatakan bahwa makhluk yang bisa bertahan hingga saat ini adalah yang bisa mengantisipasi dan menyesuaikan diri dengan perubahan alam. Jika tidak, punah!
Jika dianalogikan ke perusahaan dan dunia bisnis, maka hanya perusahaan yang bisa mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan di dunia bisnislah yang akan bisa bertahan. Untuk mencapai hal tersebut, perusahaan perlu memperhatikan manajemen perubahan. Manajemen perubahan adalah kemampuan mengelola dan menjalankan bisnis dalam situasi yang berbeda-beda.

Sifat dasar manajemen perubahan lebih mengarah pada penggunaan dan pengelolaan sumber daya yang dimiliki untuk menghadapi perubahan. Beberapa pemicu bahwa perubahan harus dilakukan antara lain, kerugian financial, menurunnya tingkat keuntungan, meningkatnya kompetisi, hilangnya pangsa pasar, resesi di bidang industri, perkembangan teknologi, pendayagunaan staf, dan lain-lainnya (Rosen, 1999).  

Untuk Indonesia, banyak perusahaan menyadari adanya perubahan, tapi gagal dalam menjalankan strategi antisipasi. Contohnya, sebuah perusahaan pertambangan di Indonesia yang sedang kesulitan gara-gara jatuhnya harga produk mereka di pasar internasional. Hal itu masih ditambah dengan meningkatnya kompetisi yang didorong oleh banyaknya ditemukan tambang-tambang sejenis. Akhirnya manajemen mengubah cara menjalankan perusahaan. Di sisi produksi, dilakukan efisiensi biaya produksi. Di bidang pemasaran dilakukan inovasi sasaran penjualan. Strategi-strategi baru dirumuskan. Efisiensi melahirkan banyak peraturan baru dengan pembatasan dan pengetatan penggunaan fasilitas perusahaan. Kenaikan gaji dan bonus ditunda. Penggunaan kendaraan  kantor dibatasi, lembur dikurangi, penggunaan telepon hingga perjalanan dinas diawasi. Ini menimbulkan protes keras. Manajemen dianggap mengeksploitasi tenaga kerja. Puncaknya terjadi eksodus di beberapa posisi penting dan muncullah demo-demo ketidakpuasan. Kecurigaan dan prasangka menebal.

Perusahaan bukannya membaik, malah bertambah parah gara-gara salah antisipasi. Mengapa terjadi salah kaprah?

Pertama, kurangnya pemahaman dan dukungan SDM (Sidarto, 1999). Pihak manajemen sering tidak menjelaskan kepada karyawan mengapa efisiensi perlu dilakukan, serta apa akibatnya bagi perusahaan dan karyawan jika program tersebut gagal dilaksanakan. Hal ini perlu dilakukan untuk menciptakan sense of urgency di kalangan karyawan. Komunikasi itu penting.

Kedua, adanya rasa takut berubah yang berlebihan (resistant to change). Sebenarnya yang ditakuti adalah ketidakjelasan dampak perubahan tersebut. Karena itu para karyawan harus dibuat bisa melihat pentingnya perubahan tersebut dari perspektif mereka, lebih jauh lagi mereka harus yakin bahwa perubahan itu menguntungkan (Levine, 1996).

Ketiga, salah satu hukum perubahan adalah hukum atas ke bawah (up down). Setiap perubahan harus dimulai dari atas (pihak manajemen) baru kemudian disosialisasikan ke bawah. Jadi sebelum membatasi penggunaan fasilitas kantor, manajemen harus mengurangi dulu fasilitas-fasilitas untuk mereka sendiri. Jika tidak, jangan harap karyawan patuh.

Keempat, kesiapan sumber daya manusia secara teknis juga patut mendapat perhatian khusus. Karena itu peran pelatihan dan pengembangan menjadi strategis dalam menghadapi perubahan. Pelatihan akan membekali karyawan dengan keterampilan baru guna menghadapi tantangan yang juga baru. Pelatihan yang sifatnya hard/technical skills misalnya, akan sangat membantu karyawan menguasai keterampilan-keterampilan teknis baru. Keterampilan yang bersifat soft/human skills akan sangat membantu karyawan untuk menyikapi perubahan secara lebih arif dan tenang.

Intinya, tidak ada yang pasti di dunia ini, kecuali perubahan.

 


Lainnya :

comments powered by Disqus