Keterampilan Plus di Tempat Kerja


Written by Fenny Wijaya

 

 Sewaktu liburan lebaran yang lalu, saya sempat bertemu dengan teman-teman lama. Dari obrolan antar teman, ternyata ada cerita bahwa salah seorang dari teman kami, sebut saja si A, setelah bekerja sekian lama, belum juga dipromosikan ke posisi yang diidamkannya padahal kinerjanya sangat bagus walau boleh dibilang A tersebut adalah orang baru dibandingkan dengan para koleganya dalam satu departemen. Dan yang dipromosikan adalah si B yang lebih lama bekerja di sana beberapa tahun, namun kinerjanya biasa-biasa saja. Menurut berita dan cerita yang beredar adalah, si A ditolak untuk dipromosikan karena ‘kurang’ disenangi oleh para koleganya. Dia dianggap terlalu keras dan menuntut. Sedangkan si B lebih bisa mengikuti kemauan lingkungan/ mayoritas, sehingga lebih disenangi oleh rekan-rekan kerjanya, walau terkadang dampaknya adalah kinerjanya menjadi biasa-biasa saja.

Saya sempat kaget mendengar berita tersebut. Kemudian saya teringat pada artikel yang pernah saya baca yang membahas tentang ketrampilan politis di lingkungan kerja. 

Sebelum kita membahas lebih jauh, ada baiknya kita teliti terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan office politics. Menurut Wikipedia, (office) politics adalah bagaimana kekuasaan dimanfaatkan dalam kegiatan sehari-hari. Atau office politics adalah pemanfaatan kekuasaan seseorang atau kekuasaan yang diberikan pada seseorang dalam suatu organisasi, dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan/ manfaat melampaui otoritas legalnya. Manfaat-manfaat tersebut bisa saja mencakup akses ke aset berwujud (tangible asset), atau keuntungan (benefit) tak berwujud seperti status atau otoritas palsu (pseudo-authority) yang dapat mempengaruhi perilaku orang lain. 

Penjelasan dari wikipedia, office politics berbeda dengan gosip. Walau orang-orang yang terlibat dalam office politics ini juga bergosip dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan, tetapi gosip adalah murni aktifitas sosial. Office politics juga merujuk pada cara seorang rekan kerja bertindak di antara satu dengan yang lain, baik positif maupun negatif. Sedangkan artikel tersebut yang berjudul “Political Skill at Work” mendefinisikan ketrampilan politis sebagai “kemampuan untuk memahami orang lain dalam lingkungan kerja dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk mempengaruhi agar orang tersebut bersedia melakukan sesuatu yang dapat meningkatkan kinerja seseorang ataupun organisasi”. Disebut ketrampilan karena praktek politik di tempat kerja tersebut dapat dipelajari. Penulis juga menekankan bahwa aspek yang paling esensi dari ketrampilan politis adalah keorisinalan, keaslian atau ketulusan, dengan demikian orang lain akan lebih mudah untuk mempercayai kita dan tidak merasa dimanipulasi.  

Jika dengar kata ‘politik’, pikiran kita langsung memikirkan hal-hal negatif. Kata ’politik’ memang memiliki reputasi yang jelek di tempat kerja, dengan konotasi manipulasi dan transaksi/ pembicaraan di belakang layar (tanpa adanya konfirmasi dengan objek yang dibicarakan ataupun yang bersangkutan). Namun jika kita mengacu pada artikel yang ditulis oleh Gerald R. Ferris, Sherry L. Davidson dan Pamela L. Perrewe tersebut, ketrampilan politis adalah suatu ketrampilan plus yang harus dimiliki di tempat kerja. Seseorang yang memiliki ketrampilan politis akan mampu untuk meningkatkan efektifitas kerja, memaksimalkan kinerja dan kesuksesan karir, meningkatkan reputasi, dan mengelola stres pekerjaan. Ketrampilan politis juga mempengaruhi promosi, kompensasi dan ketahanan dalam suatu pekerjaan.

Oleh karena kemampuannya mempengaruhi sehingga dapat memperkecil ancaman terhadap posisi atau pekerjaannya. Sedangkan sisi lainnya adalah: orang yang berketrampilan politis sangat ahli dalam mempengaruhi orang lain, sehingga pendapat orang lain terhadap kemampuannya juga lebih berdasarkan persepsi daripada kinerja atau keadaan sebenarnya. Hal lain yang perlu diingat adalah, kemampuan politis tidak sama dengan kemampuan kepemimpinan (leadership), walaupun sama-sama bicara mengenai pengaruh. Leadership atau kepemimpinan lebih kepada mempengaruhi dan memotivasi seseorang untuk mau bertindak demi tercapainya visi dan misi organisasi. Dan seseorang yang mempunyai kemampuan kepemimpinan yang baik, terkadang tanpa dengan sengaja untuk mempengaruhi pun, seseorang akan dengan sukarela mengikutinya. 

Praktek politik di kantor ini memang banyak menimbulkan pro dan kontra. Namun apapun pendapat kita, ada baiknya kita telaah kembali diri kita masing-masing. Dan bagi yang berniat untuk mempraktekkannya ataupun yang sudah terlibat di dalamnya, ada baiknya ditanyakan kembali pertanyaan berikut ini. Apakah nyaman untuk mempraktekkannya? Ataupun ikut terlibat di dalamnya? Apakah sesuai dengan value pribadi? Apakah nilai dan budaya organisasi memungkinkan atau mendukung adanya praktek ketrampilan tersebut?


Lainnya :

comments powered by Disqus